Kamis, 15 November 2018

Kopi Sukanagara Untuk Dunia


Dalam sejarah, kopi di Indonesia sudah melewati perjalanan panjang dari awal masuk hingga tersebar di penjuru nusantara. Beberapa literatur tua dan artikel-artikel yang telah lebih dulu mengulas tentang sejarah masuknya kopi ke Bumi Pertiwi menyebutkan bahwa pada tahun 1696 Pemerintah Belanda membawa kopi dari Malabar, sebuah kota di India, ke Indonesia melalui Pulau Jawa.
Alur tersebut tertulis di salah satu arsip dari kongsi dagang/persekutuan dagang dari Pemerintah Hindia Timur Belanda, yang lebih dikenal dengan nama VOC (Vereenigde Oostindische Compagnie). Di tahun 1707, Gubernur Van Hoorn mendistribusikan bibit kopi ke Batavia, Cirebon, kawasan Priangan serta wilayah pesisir utara Pulau Jawa. Tanaman baru ini akhirnya berhasil dibudidayakan di Jawa sejak 1714-1715. Sekitar 9 tahun kemudian, produksi kopi di Indonesia sudah begitu melimpah dan mampu mendominasi pasar dunia. Bahkan pada saat itu jumlah ekspor kopi dari Jawa ke Eropa telah melebihi jumlah ekspor kopi dari Mocha (Yaman) ke Eropa. selengkapnya baca disini 







Dalam perkembangannya permintaaan akan kebutuhan kopi semakin meningkat tak terkecuali di daerah Cianjur, perkembangan konsumsi kopi dan tanaman kopi sudah mulai terlihat menjadi hal menarik banyak orang, ini di lihat dari data tanaman kopi di kawasan Perum Perhutani KPH Cianjur ± 900 Ha yang sudah di tanam dengan kondisi sudah dipanen dan siap panen.
Dikawasan Perum Perhutani di dominasi oleh 3 daerah sebaran antara lain :

1. BKPH Cianjur meliputi wilayah Kec. Cipanas, Kec. Sukaresmi, Kec Mande
2. BKPH Sukanagara Utara & Selatan meliputi wilayah Kec. Campaka, Kec. Campakamulya, Kec.        Sukanagara, Kec. Pagelaran.
3. BKPH Cibarengkok meliputi Wilayah Kec. Rancabali Bandung Barat, Kec. Naringgul, Kec.           
    Pasirkuda.

Perkembangan ini cukup membuat geliat kopi cianjur untuk dunia seperti judul yang saya buat di atas, Kenapa ? karena ternyata kopi cianjur mempunyai cita rasa yang berbeda dengan daerah lainnya di jawa barat walaupun Kopi cianjur tidak mengikuti tren gunung seperti daerah garut dan bandung penamaan kopi pasti mengikuti gunung d mana areal kopi berada. 
Untuk tulisan saya kali ini mengulas perkembangan kopi Sukanagara Kab. Cianjur karena di daerah ini untuk tanaman kopi cukup masif dan sudah banyak produk jadi yang siap di pasarkan, sukanagara dengan rata-rata ketinggiap ± 900 DPL dengan suhu 19 - 24 C sangat memungkinkan untuk tumbuh kembang kopi apalagi dengan culture perkebunan teh warisan jaman belanda.  Didalam Kawasan hutan Perum Perhutani saya mengenal LMDH (Lembaga Masyarakat Desa Hutan)  dan LMDH yang concern terhadap budidaya kopi adalah LMDH Wana Sukamekar, LMDH Gunungsari, kedua LMDH ini sebagai pionir dalam hal penanaman dan produk kopi dengan penggerak mereka Bapak Juhana dan Bapak ayi Kahfi.
Tulisan ini akan berlanjut dengan interview langsung saya dengan semua stakeholder kopi di wilayah sukanagara mudah-mudahan minggu depan sudah dapat tayang dan hari ini apakah anda sudah minum kopi ? kopi rencengann apa kopi produk lokal ?